Pendahuluan

Manusia adalah mahluk sosial.[1] Salah satu cara manusia bersosialisasi adalah menggunakan ponsel pintar. Ponsel pintar membantu berkomunikasi, mendengarkan lagu, mengambil foto, dan beraktivitas ekonomi (seperti berbelanja maupun berjualan).[2] Selain dampak positif, ponsel pintar mempunyai dampak negatif. Salah satunya adalah kecanduan (sebagaimana kecanduan bukan hanya terkait dengan narkoba, judi dan game).[3] Terdapat 81% dari orang Amerika yang mempunyai ponsel pintar dan membawa ponsel pintarnya kemana-mana dan setidaknya 72% dari mereka melihat ponsel pintar terlalu sering. Sementara itu, 22% dari orang yang berusia 18-29 melihat ponsel pintar semenit sekali.[4] Jika kondisi ini berkelanjutan, manusia tidak dapat lagi mengontrol objek, melainkan dikontrol oleh objek.[5] Dengan demikian kemanusiaan manusia diragukan. Tulisan ini akan mencoba menganalisis masalah kecanduan ponsel pintar dari perspektif pelajaran kelas 7 SMP.

 

  1. Dunia Ponsel Pintar

Ponsel pintar yang pertama kali diciptakan adalah IBM Simon[6] dan ponsel pintar pertama kali ditemukan pada tahun 1971.[7] Ponsel pintar memiliki berbagai fitur (lihat Tabel 1). Fitur tersebut disediakan untuk memudahkan aktifitas manusia. Kemudahan, kecepatan dan ketepatan adalah hal yang ditawarkan.

 

FiturFungsi
Media Sosial.[8]Berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan berbagai hal.[9]
SMS.[10]Mengirim atau menerima pesan-pesan pendek.[11]
Ponsel.[12]Menyampaikan pesan suara.[13]

Tabel 1. Fitur Ponsel Pintar

 

Dalam persaingan bisnis, selain menawarkan fitur, ponsel pintar juga menawarkan bahan yang digunakan. Beberapa bahan yang tidak dapat diperbarui, contohnya emas, platina, dan logam lainnya, digunakan untuk membuat ponsel pintar.[14] Penggunaan barang tambang tersebut dapat mengakibatkan sulitnya memperoleh barang tambang tersebut untuk masa depan.[15] Sistem operasi ponsel pintar pun berkembang. Android, iOS, Windows Phone adalah tiga besar dari seluruh sistem operasi ponsel pintar[16] (lihat Gambar 1).

 

 

Gambar 1. Sistem Operasi Ponsel Pintar

 

Gambar di atas menunjukkan bahwa sistem operasi Android lebih banyak digunakan dari pada iOS dan Windows Phone. Kemungkinan besar, market share Android akan meningkat sebesar 1,4%, sementara iOS turun sebesar 1,7% pada 2019. Sementara itu, Windows Phone diprediksi akan memperoleh peningkatan market share sebesar 0,1% pada 2019.

Peningkatan penjualan ponsel pintar kini didominasi oleh Samsung dan Apple. Sebagai produsen terbesar di dunia, Samsung dan Apple tidak berkompetisi sendirian. Terdapat berbagai merek lain yang mengalami peningkatan penjualan[17] (lihat Gambar 2).

 

Gambar 2. Market Share Ponsel Pintar

 

Gambar di atas menunjukkan bahwa market share Apple menurun pada 2015 dibandingkan 2014. Sementara market share Samsung mengalami stagnansi pada 2014 dan 2015. Produk selain Samsung dan Apple mengalami peningkatan yang cukup signifikan pada 2015. Hal tersebut menunjukkan bahwa market share ponsel pintar produk lain (selain Samsung dan Apple) bertumbuh sangat pesat. Artinya pertumbuhan pengguna ponsel pintar di dunia pun terus bertumbuh.

 

  1. Ponsel Pintar (Remaja): Peluang dan Tantangan

Hadirnya ponsel pintar sebagai teknologi terkini dapat menimbulkan masalah sosial, yakni perubahan masyarakat (perubahan sosial).[18] Kemudahan komunikasi dengan ponsel pintar menjadi fenomena yang bisa merubah pola komunikasi antar manusia.[19] Komunikasi face-to-face digantikan dengan komunikasi virtual, surat digantikan dengan pesan singkat (SMS) dan diskusi dilakukan dalam forum virtual. Keadaan tersebut menuntut etiket antar manusia. Misalnya orang yang selalu memakai ponsel pintar saat temannya sedang berbicara. Orang yang memakai ponsel pintar selalu fokus dengan ponselnya, sehingga orang yang berhadapan langsung diabaikan.

Memakai ponsel pintar dengan baik dan sopan adalah memilih waktu yang tepat untuk memakai ponsel pintar. Ponsel pintar perlu ditaruh sewaktu menghadapi lawan bicara. Jika pada sebuah keadaan, ponsel harus diangkat, maka perlu meminta izin dari lawan bicara. Dalam mengirim pesan singkat, pemilihan kata dan kalimat berperan penting untuk komunikasi yang baik. Dalam agama, berkomunikasi itu harus dengan lemah lembut (Ta-Ha ayat 43-44), pantas atau masuk akal (Al-Isra ayat 28) (Matius 13: 51, 54)[20] dan dengan perkataan yang baik (Al-Ahzab ayat 32).[21] Nilai-nilai etiket tersebut patut dilakukan untuk menggunakan ponsel pintar dengan etis. Pengambilan foto dan video pun, perlu dilakukan setelah meminta izin.[22]

Terdapat peluang atas teknologi ponsel pintar. Dengan ponsel pintar dan aplikasinya, batas-batas sosial lenyap.[23]Artinya hubungan sosial antar manusia menjadi tidak ada batasnya. Bagaimana pun ponsel pintar memberi peluang dan tantangan. Sub judul ini akan menguraikan berbagai tantangan dan peluang yang ditimbulkannya. Analisis penulis serta sumber-sumber lain akan dijadikan acuan diskusi.

Perubahan sosial di Indonesia adalah bahwa konsumsi bukan hanya karena nilai guna, melainkan karena gaya hidup.[24] Apa yang dikonsumsi bukan lagi hanya objek, tapi juga simbol-simbol sosial yang tersembunyi di baliknya. Itu disebut dengan konsumerisme.[25] Dalam konteks ini, ponsel pintar persis dibidik oleh Baudrillard, bahwa ponsel pintar bukan lagi hanya berfungsi sebagai komunikasi, melainkan juga simbol-simbol tertentu. Contohnya, remaja-remaja membeli ponsel merek Apple, bukan karena fiturnya, tetapi karena ikut-ikutan. Orang sekitarnya otomatis diharapkan berpikir “oh, ini orang kaya. Punya merek Apple. Setiap ada produk baru ia berusaha mendapatkannya agar tetap update ” Dengan keadaan tersebut, manusia tidak lagi mampu mengontrol objek, melainkan dikontrol oleh objek. [26]

Tantangan pertama adalah tantangan budaya. Terdapat kecenderungan hiper pada masyarakat yang terlihat dalam perkembangan TV, internet, komputer dan multimedia. Segalanya tampak nyata, padahal tidak nyata. Semua hanya halusinasi image yang tercipta lewat media elektronik.[27] Seperti remaja-remaja jatuh cinta melalui Facebook dan Instagram. Remaja menganggap itu nyata, padahal itu tidak nyata.

Kemudahan akses teknologi juga berpeluang mendorong Homogenisasi budaya.[28] Budaya di satu tempat sama dengan budaya lain. Ada penyeragaman cara, gaya dan pola hidup. Kalau budaya disatukan (dan tidak ada berbagai budaya di tempat lain), indentitas manusia akan hilang. Budaya-budaya seharusnya dihormati. Karena manusia menciptakan budaya dari pengalamannya dalam bentuk simbol-simbol. Budaya yang muncul kemudian adalah budaya konsumerisme. [29] Gaya konsumsi ditopang oleh proses penciptaan diferensiasi secara terus-menerus lewat mekanisme tanda, citra dan makna-makna simbolik.

Kehidupan manusia kemudian mengalami. Hiper-realitas gaya hidup[30] artinya dunia realitas yang dibangun oleh unsur-unsur copy, replica, replication, imitation, likeness dan reproduction dari kebudayaan masa lalu yang dihadirkan di dalam konteks masa kini. Seperti simulasi pada pembuatan film dinosaurus, dengan cara sebuah model realitas yang dibangun oleh prinsip salinan.

Gaya hidup digital menggantikan gaya hidup face-to-face.[31] Artinya muka kita selalu di ponsel atau alat elektronik.  Bill Gates menjelaskan gaya hidup digital sebagai hidup yang dicirikan oleh “inovasi cepat berbagai aplikasi komputer. Inovasi ini melahirkan perangkat lunak dan perangkat keras baru yang mengubah hidup setiap orang.”

Tantangan kedua adalah terkait dengan penggunaan waktu. Sebagai remaja, bertanggung jawab terhadap waktu ialah penting.  “Time is our most precious commodity.”[32] Waktu akan terus menerus maju, tidak ada yang bisa menghentikan waktu. Tantangan yang dihadapi dengan adanya ponsel pintar adalah waktu. Semakin banyak waktu yang digunakan untuk ponsel pintar, sehingga semakin sedikit waktu untuk keluarga, teman, guru dan orang sekitarnya. Sementara, untuk dapat berhasil, remaja perlu mengatur waktu dengan baik.[33] Mengatur waktu sangat penting untuk dilakukan karena bisa menghemat energi untuk pekerjaan lain.[34]

Tantangan ketiga adalah kecanduan. Kegiatan berbasis internet seperti game, chatting dan pornografi telah menunjukkan tingkat yang sama dengan kecanduan sebagai penyalah guna narkoba dan zat.[35] Sampai adanya kelupaan pekerjaan yang direncanakan akibat penggunaan ponsel pintar.[36]

Tantangan keempat adalah tentang kesehatan. Misalnya hipermetropi dan miopi. Hipermetropi adalah masuknya cahaya melebihi batas saraf optik, sehingga melihat benda dekat menjadi kabur. [37] Hipermetropi bisa terjadi karena pengguna ponsel pintar melihat dengan jauh sekali melebihi 30cm,[38] bisa mendapatkan penyakit hipermetropi. Cara meringankan penglihatan hipermetropi adalah memakai kaca mata berlensa plus, melakukan terapi medis atau modifikasi kebiasaan dan lingkungan pasien. [39] Miopi adalah masuknya cahaya ke mata dan tidak mancapai belakang mata, sehingga melihat benda jauh menjadi kabur.[40] Miopi bisa terjadi karena pengguna ponsel pintar melihat ponselnya dekat sekali mengurangi 30 cm.[41] Cara meringankan penglihatan miopi adalah memakai kaca mata berlensa minus, terapi medikal atau latihan penglihatan.[42]

[1] K. Wardiyatmoko, Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMP/MTs Kelas VII (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2009), 41.

[2] Ding Hooi Ting, Suet Fong Lim, Tanusina Siuly Patanmacia, Ca Gie Low and Gay Chuan Ker, “Dependency on Smartphone and the Impact on Purchase Behavior,” Young Consumers Vol. 12, No. 3 (2011): 193-194.  

[3] Ibid, 193.

[4] Felix Richter, “America’s Growing Smartphone Addiction,” Statista, http://www.statista.com/chart/3666/frequency-of-smartphone-usage/. Diakses pada 11 Desember 2015.

[5] Yasraf Amir Piliang. Dunia Yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan, (Bandung: Matahari, 2004), 149.

[6] Spinfold.com. History of first touchscreen smartphone dalam https://en.wikipedia.org/wiki/Smartphone diakses pada 9 Desember 2015.

[7] U.S. Patent #3,812,296/5-21-1974 (Apparatus for Generating and Transmitting Digital Information), U.S. Patent #3,727,003/4-10-1973 (Decoding and Display Apparatus for Groups of Pulse Trains), U.S. Patent #3,842,208/10-15-1974 (Sensor Monitoring Device) dalam https://en.wikipedia.org/wiki/Smartphone diakses pada 9 Desember 2015.

[8] Okta Riandy dkk., “Analisis Forensik Recovery dengan Kemanan Kode Pola pada Smartphone Android,” Student Colloquium Sistem Informasi & Teknik Informatika (2015), 139.

[9]  Andreas Kaplan, M.; Michael Haenlein (2010) “Users of the world, unite! The challenges and opportunities of Social Media“. Business Horizons 53(1): 59–68. Dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Media_sosial#cite_note-1 diakses pada 10 Desember 2015.

[10] Okta Riandy dkk., “Analisis Forensik Recovery dengan Kemanan Kode Pola pada Smartphone Android,” Student Colloquium Sistem Informasi & Teknik Informatika (2015), 139

[11] http://www.detikinet.com/read/2008/01/16/094747/879587/328/tarif-sms-di-indonesia-mahal-atau-murah dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Layanan_pesan_singkat di akses pada 10 Desember 2015.

[12]Okta Riandy dkk., “Analisis Forensik Recovery dengan Kemanan Kode Pola pada Smartphone Android,” Student Colloquium Sistem Informasi & Teknik Informatika (2015), 139.

[13]  “Cuaderno del laboratorio de Alexander Graham Bell, 1875-1876”World Digital Library.dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Ponsel di akses pada 10 Desember 2015.

[14] Xun Li dkk., “Mitigating the Environmental Impact of Smartphones with Device Reuse,” Information Science Reference Chapter 11 (2012), 259. https://www.cs.ucsb.edu/~xun/papers/reuse-ictbook12.pdf

[15] Ibid, 259.

[16] Felix Richter, “The Platform War Is Over and Android Won,” Statista, http://www.statista.com/chart/4112/smartphone-platform-market-share/.

[17] Felix Richter, “The Smartphone Market Is Not a Two-Horse Race,” Statista, http://www.statista.com/chart/3959/worldwide-smartphone-shipments/.

[18] Yasraf Amin Piliang, Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan. (Bandung: Matahari, 2004), 428-430.

[19] Ibid, 239-240.

[20] Alkitab Perjanjian Baru (Jakarta: Percetakan Lembaga Alkitab Indonesia, 2009), 20.

[21] Usman el-Qurtuby, al-haramain (Bandung: Cordoba, 2015), 45, 48, 418.

[22] Juwaria Muqtadir, Modul PKN (Bali: SMP Cendekia Institut, 2015), 4.

[23] Ibid, 110-111.

[24] Yasraf Amin Piliang, Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan. (Bandung: Matahari, 2004), 145.

[25] Ibid, 145.

[26] Yasraf Amir Piliang. Dunia Yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan, (Bandung: Matahari, 2004), 149.

[27] Ibid, 154.

[28] Ibid, 235.

[29] Ibid, 238-239.

[30] Ibid, 241.

[31] Ibid, 239-240.

[32] John C. Maxwell, Today Matters (New York: Hachette Book Group, 2004), 66.

[33] Evi Febriani, “Kreativitas siswa dalam membagi waktu belajar hubunganya dengan prestasi belajar,” Jawa Timur: Jurnal Pelopor Pendidikan, (2012): 93.

[34] Akhmad Hidayatno, “Keterampilan mengatur waktu,” Jawa Barat:Departemen Teknik Industri, (2008):1.

[35] Min Kwon dkk., The Smartphone Addiction Scale: Development and Validation of a Short Version for Adolescents (South Korea: Creative Commons Attribution License, 2013), 1

[36] Ibid, 5

[37] Bruce D. Moore, O.D., Care of the Patient with Hyperopia (USA: American Optometric Association, 2010), 2.

[38] Cicih Komariah dan Nanda Wahyu A., “Hubungan Status Refraksi, dengan Kebiasaan Membaca, Aktivitas di Depan Komputer, dan Status Refraksi Orang Tua pada Anak Usia Sekolah Dasar,” Malang: Jurnal Kedokteran Brawijaya, (2014): 138.

[39] Bruce D. Moore, O.D., Care of the Patient with Hyperopia, 19-21.

[40] A. Goss, O.D., Ph.D., Principal Auth., Care of the Patient with Myopia, 3.

[41] Cicih Komariah, Nanda Wahyu A., “Hubungan Status Refraksi, dengan Kebiasaan Membaca, Aktivitas di Depan Komputer, dan Status Refraksi Orang Tua pada Anak Usia Sekolah Dasar,” Malang: Jurnal Kedokteran Brawijaya, (2014): 138.

[42] A. Goss, O.D., Ph.D., Principal Auth., Care of the Patient with Myopia, 21-23.